PERBEDAAN KONSEP BERTETANGGA (JEPANG Vs BALI)

Tetangga dalam definisi KBBI adalah orang (rumah) yg rumahnya berdekatan atau sebelah-menyebelah. Saya kira artinya juga sama dengan istilah bahasa Jepang ( tonari no hito).

Namun konsep bertetangga antara Jepang dan Indonesia khususnya Bali, sangat jauh berbeda. Di Jepang, tetangga adalah sekedar orang yang tinggal berdekatan rumahnya dengan kita. Mereka tidak dilibatkan terlalu dalam sebagaimana pertetanggaan di Bali. Tidak ada obrolan mendalam tentang anak, tentang masakan sebagaimana yang dilakukan ibu-ibu pada umumnya. Tentu saja mereka tetap saling menyapa, sekedar sapaan biasa, tetapi tidak membicarakan masalah keluarga. Jadi, tidak ada yang tahu anak keluarga A sekarang kuliah di kota B, anak keluarga B sakit, dan lain – lain.

Pesta pernikahan adalah pesta yang tidak melibatkan tetangga sama sekali.Yang diundang hanya teman mempelai, sanak keluarga terdekat, atasan dan teman kantor. Alasan tidak mengundang tetangga karena biaya pernikahan mahal, dan ada kebiasaan memberikan souvenir kepada tamu yang harganya cukup mahal, serta tamu minimal memberikan amplop 30 ribu yen. Alasan kedua, pesta pernikahan tidak pernah dilakukan di rumah, tetapi di gedung pernikahan atau di hotel. Dan tidak ada istilah seperti di Bali, tetangga datang untuk membantu mempersiapkan segala persiapan untuk upacara pernikahan tersebut. Bahkan saat menerima undangan , kita boleh mengajak teman yang lain. Atau kalau bapak yang diundang, maka ibu dan anak pun boleh ikut menghadiri pesta tersebut.

Demikian pula pada pemakaman di Jepang, tetangga dekat terutama di perkotaan tidak diundang. Tidak sama dengan di Bali, saat ada yang meninggal, tidak perlu ada undangan, tetangga sekompleks ataupun sedusun akan berdatangan untuk melayat dan tentu untuk membantu mempersiapkan upacaranya. Dan urusan jenazah pun dilakukan secara gotong royong hingga pemakaman atau istilah yang dikenal di Bali yaitu Upacara Ngaben. Sedangkan di Jepang semuanya dikelola oleh perusahaan pemakaman. Jadi tetangga tidak dilibatkan sama sekali. Di pedesaan atau lingkungan kota kecil, tetangga yang tinggal di lingkungan satu kuil biasanya akan berdatangan dalam upacara meninggalnya seseorang.

Di Jepang jika anda sakit, maka jangan berharap tetangga akan membantu anda seperti anda ada di Bali. Orang Bali lebih cepat tanggap jikalau ada tetangga yang sakit atau butuh pertolongan. Mereka akan segera menawarkan bantuannya kepada mereka yang membutuhkan. Inilah biasanya yang disebut Kelompok Suka – Duka. Orang Jepang tidak pernah bergantung kepada tetangganya. Lalu apa yang mereka lakukan ? Mereka lebih percaya pada fasilitas pemerintah, telepon ambulance, dan dengan segera mereka akan datang mengangkut anda ke rumah sakit.

Istilah Rukun Tetangga (RT), Rukun Kampung (RK), Rukun Warga (RW),di Indonesia, atau di Bali yang dikenal dengan istilah Tempekan,  sebenarnya muncul dan diperkenalkan pada masa pendudukan Jepang. Konsep ini tidak sekedar bermakna  pengelompokkan untuk memudahkan administrasi pemerintahan hingga level terkecil, tetapi maknanya lebih dalam terkait dengan konsep gotong royong, bahu membahu, berbaur dengan arisan dan kelompok suka – duka.

Konsep tonari gumi (Rukun Tetangga) juga masih ada di pedesaan di Jepang. Tetapi sudah menghilang di perkotaan. Barangkali karena sejak kekalahan dalam perang dunia II, industrialisasi berkembang pesat dan banyak orang Jepang bekerja sebagai “salary man” (pekerja kantor/perusahaan), kehidupan mereka lebih banyak dihabiskan di kantor, sehingga konsep petetanggaan menipis, dan yang menguat adalah konsep pertemanan di kantor.

Karena sangat individualnya, mereka mempunyai filosofi : tidak merepotkan/mengganggu orang lain, pertetanggaan menjadi sangat kaku di Jepang, dan oleh karenanya lembaga/perusahaan pelayanan jasa menjadi berkembang dengan baik. Melihat perkembangan masyarakat individual seperti ini di Jepang, saya berharap semoga masyarakat perkotaan di tanah air dan khususnya di Bali yang tengah menuju kecenderungan yang sama, tetap tidak melupakan konsep gotong royong yang dianut oleh bangsa kita.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s